TANTANGAN AKSELERASI PENGEMBANGAN INDUSTRI HILIR BATU BARA

Kamis, 5 November 2020
09.00 – 11.00 WIB
Via Zoom Webinar

Sujatmiko – Kementerian ESDM
• Indonesia memiliki ketersediaan batubara mencapai 149,01 M ton dengan cadangan sebesar 37,6 M
ton.
• Melalui UU No.3/2020 tentang pertambangan memberikan kepastian hukum dan investasi yang
mendorong industry dan pengusaha untuk mendapatkan profit positif
• Pemegang IUP yang melakukan hilirisasi terhadap area tambangnya, harus mengikuti matriks
hilirisasinya.
• Pengusaha yang melaksanakan tambang batubara dapat didukung dengan pemberian insentif
atau royalti, namun disesuaikan dengan marketnya sehingga pemberian insentif sesuai kebutuhan
pengusaha.
• Indonesia harus bisa segera mengkonversi pola dari penambangan (cari, temukan, gali, angkut, jual,
bakar), jika masih menggunakan pola yang stagnant tanpa melakukan inovasi atau konversi, hanya akan
mampu untuk memenuhi kebutuhan batubara existing bukan jangka panjang.
• Tantangan ke depan adalah bagaimana mengembangkan kreatif bisnis batubara dengan ketersediaan
cadangan batubara sampai dengan 2040 mencapai 24,5 M ton.

Bastian – Kementerian Bidang Perekonomian
• Pemerintah pernah mengembangkan penggunaan briket batubara yang menjadi Program Pemerintah
sebagai upaya pengembangan energi alternatif menggantikan minyak tanah. Namun program ini tidak
berjalan dengan baik di waktu itu.

Ratih Amri – PT MIND ID
• Penyataan Presiden untuk melakukan tranformasi energi, telah dikembangkan oleh Bukit Asam
menjadi program tranformasi bisnis dengan program go beyond coal untuk jangka menengah (5 tahun).
• Ada beberapa kendala dalam implementasi transformasi energi di Indonesia diantaranya pusat
teknologi belum optimal, dalam pemasaran baru menggunakan 20% DME (sifatnya komplimenter)
dan masyarakat belum siap beralih ke kompor DME, dan perlu lahan yang lebih luas untuk EBT.
• Saat ini yang sudah menerapkan hilirisasi batubara berada di Muara Enim, dengan infrastruktur yang
lebih lengkap.
• Pemahaman geopolitik akan memberikan peluang dan kesempatan pengembangan batubara di
Indonesia.

Hendra Sinadia – APBI
• Indonesia harus mulai melakukan transformasi batubara dengan pengelolaan green environment.
• Harga batubara yang relatif rendah, masih menjadi incaran bagi importir, terutama Tiongkok dan
India sebagai negara industri. Diprediksi kebutuhan batubara dari Indonesia masih mampu memenuhi
kebutuhan ekspor.
• Menurut profil negara-negara di dunia, 80% merupakan negara berkembang, yang pasti membutuhkan
batubara sebagai salah satu bahan bakar. Terlebih kondisi pandemi saat ini, negara-negara berkembang
akan lebih pragmatis untuk recovery perekonomian dan membutuhkan bahan baku dengan harga
murah.

Tria Suprajeni – PT Pesona Khatulistiwa Nusantara
• Sebagai salah satu pelaku industri batubara, PT PKN yang bergerak sejak 2012, sudah melakukan
kegiatan hilirisasi mulai dari upgrading, pembangunan PLTU dan memproduksi produk sampingan.
• Yang menjadi catatan selain teknologi dan financing, perlu mempersiapkan SDM untuk menjadi seller
yang kompeten. Bahkan dari PT PKN juga sedang melakukan upgrading skill SDM.
• Belum lagi keterbatasan dari penambang lokal, mereka harus bergabung atau membentuk komunitas
dengan lebih dari 2 perusahaan agar dapat melakukan hilirisasi.

Cahyadi – BPPT
• Beberapa PLTU mengalami pergeseran dari desain awal dan saat ini menggunakan batubara dengan
nilai yang rendah yang berpengaruh terhadap efisiensi juga rendah.
• Regulasi di PLTU juga mempengaruhi produktivitas pengembangan batubara, nilai investasi cukup
besar sementara harga jual produk justru masih harus bersaing dengan energi lainnya.